23 April 2009

Berapa lamakah lagi?

Is it will be our 'silent creams'??

Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet. 

Baju merahnya yg besar melambai-lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang ice-cream sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dijilati, sementara tangan kirinya mencengkam tangan ayahnya. 

Yani dan ayahnya memasuki wilayah perkuburan Karet, menoleh sejenak ke kanan dan kekiri & kemudian duduk di atas tembok nisan "Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1915: 20- 01-1965" 

"Nak, ini kubur nenekmu, mari kita berdo'a untuk nenekmu" Yani melihat wajah ayahnya, lalu meniru gaya tangan ayahnya yg mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia  mendengarkan ayahnya berdo'a untuk Neneknya... 

"Ayah, sewaktu nenek meninggal umurnya 50 tahun ya ayah." Ayahnya mengangguk sambil tersenyum, sambil memandang pusara ibunya. 

"Hmm, bererti nenek sudah meninggal 42 tahun la ayah..." kata Yani berlagak sambil matanya mengira dan jarinya berhitung. "Ya, nenekmu sudah berada di dalam kubur selama 42 tahun ... " jawab ayahnya.

Yani menoleh kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana . Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut, tertulis di atasnya "Muhammad Zaini: 19-02-1882 : 30-01-1910" 

"Hmm.. kalau yang itu, dia sudah meninggal 106 tahun yang lalu la ayah", jarinya menunjuk nisan bersebelahan kubur neneknya. Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengusap kepala anak. "Kenapa Yani?" Tanya sang ayah menatap teduh mata anaknya. "Hmmm, kan semalam ayah ada bagitau, bahwa kalau kita mati, kalau kita banyak dosanya, kita akan disiksa di kubur" kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Betulkan yah?" 

Ayahnya tersenyum, "Lalu?" 
"Iya lah..kalau nenek banyak dosanya, bererti nenek sudah disiksa 42 tahun di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, bererti sudah 42 tahun nenek bersenang-senang dikubur.... betul tak ayah?" mata Yani bersinar,cuba menjelaskan pendapatnya. 

Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas ...... "Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek. 

Pulang dari pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya tadi... 42 tahun hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi...142 tahun disiksa, lalu dia menunduk...Menitiskan air mata... 

Kalau ia meninggal .. Lalu banyak dosanya ...jika kiamat masih 1000 tahun lagi bererti ia akan disiksa 1000 tahun? 
Innalillaahi WA inna ilaihi rooji'un’ .... Air matanya semakin banyak menitis, sanggupkah ia selama itu disiksa? Ya kalau kiamat 1000 tahun ke depan, tettapi kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur? Bukankah siksaan di kubur akan lebih parah lagi? 
Tahankah?

Ya Allah... Ia semakin menunduk, tangannya mengangkat, setinggi bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri pipi dan janggutnya…

Allahumma as aluka khusnul khootimah”.. berulang kali di bacanya DOA itu hingga suaranya serak ... Dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani. 

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas katil. Di betulkan selimutnya. Yani terus tertidur.... siapa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih kepada anaknya karana telah menyedarkannya erti sebuah kehidupan... Dan apa yang akan datang di depannya... 

"Ya Allah,Kau  letakkanlah Dunia ditanganku, dan janganlah Kau letakkan ia dihatiku..."

No comments: